sekolahjayapura.com

Loading

puisi tentang sekolah sd

puisi tentang sekolah sd

Gerbang Ilmu, Taman Cita: Puisi-Puisi tentang Sekolah Dasar

Sekolah dasar, masa-masa penuh warna, tempat pertama kali kaki menjejak dunia pendidikan formal. Di sanalah abjad dikenalkan, angka dijumlahkan, dan persahabatan terjalin erat. Lebih dari sekadar bangunan dan kurikulum, sekolah dasar adalah kawah candradimuka, menempa karakter dan menumbuhkan mimpi. Puisi, dengan segala keindahannya, mampu menangkap esensi pengalaman di sekolah dasar, merekam kenangan manis, dan menyampaikan harapan akan masa depan.

1. Pagi di Depan Gerbang Sekolah:

Matahari menyapa, embun masih bergelayut,
Tas punggung berat, langkah kaki terayun.
Di depan gerbang, wajah-wajah berseri,
Menyambut hari, penuh semangat di hati.

Seragam putih merah, lambang persatuan,
Mimpi-mimpi kecil, bersemi di halaman.
Suara riang tawa, memecah keheningan,
Menyambut guru tercinta, dengan penghormatan.

Bau kapur tulis, aroma buku baru,
Menyemangati jiwa, menuntut ilmu.
Lonceng berbunyi, tanda waktu tiba,
Berbaris rapi, menuju dunia cita.

Analisis: Puisi ini menggambarkan suasana pagi hari di depan gerbang sekolah dasar. Penggunaan citraan visual (matahari, embun, seragam putih merah) dan pendengaran (suara riang tawa, lonceng) menciptakan gambaran yang jelas dan hidup. Rima akhir yang konsisten (a-a-a-a) memberikan kesan harmonis dan mudah diingat. Tema utama adalah semangat dan harapan yang menyertai setiap awal hari di sekolah.

2. Di Kelas, Belajar Bersama:

Meja dan kursi, berbaris dengan rapi,
Mendengarkan guru, dengan hati berani.
Abjad dan angka, mulai dipelajari,
Membuka jendela, ke dunia yang luas ini.

Membaca buku, menulis di papan tulis,
Menghitung angka, dengan senyum yang manis.
Bertanya dan menjawab, tanpa rasa malu,
Belajar bersama, meraih ilmu.

Teman sebangku, sahabat sejati,
Saling membantu, tanpa iri hati.
Tertawa bersama, berbagi cerita,
Menciptakan kenangan, yang tak terlupa.

Analisis: Puisi ini fokus pada kegiatan belajar mengajar di dalam kelas. Penggunaan kata-kata sederhana dan mudah dipahami mencerminkan bahasa yang lazim digunakan di sekolah dasar. Penekanan pada kerjasama dan persahabatan menyoroti pentingnya aspek sosial dalam proses pembelajaran. Rima akhir yang sederhana dan berulang (a-a-a-a) memberikan kesan ritmis dan menyenangkan.

3. Bermain di Halaman Sekolah:

Saat istirahat, lonceng berdering nyaring,
Berhamburan keluar, dengan hati senang.
Halaman sekolah, menjadi arena bermain,
Lupa akan lelah, lupa akan dingin.

Berlari dan melompat, tertawa terbahak,
Bermain petak umpet, di balik semak.
Bermain bola, berebut kemenangan,
Saling mendukung, dalam setiap tantangan.

Ayunan berayun, tinggi ke angkasa,
Mimpi-mimpi melayang, bebas dan perkasa.
Perosotan licin, meluncur dengan riang,
Menciptakan kebahagiaan, yang tak terbilang.

Analisis: Puisi ini menggambarkan suasana riang dan gembira saat istirahat di halaman sekolah. Penggunaan kata kerja aktif (berlari, melompat, tertawa) memberikan kesan dinamis dan hidup. Citraan visual (ayunan, perosotan) membangkitkan kenangan masa kecil yang menyenangkan. Tema utama adalah kebebasan, kegembiraan, dan persahabatan yang terjalin melalui permainan.

4. Guru, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa:

Engkau membimbing kami, dengan sabar dan tekun, Mengajarkan ilmu, tanpa kenal lelah dan tak kenal lelah. Kaulah pelita, di tengah kegelapan, Penerangan jalan menuju masa depan.

Dengan senyuman hangat kau sapa, Tumbuh semangat, dalam jiwa. Engkaulah teladan, teladan mulia, Pembentuk budi pekerti, menjadi pribadi yang bermanfaat.

Terima kasih guru, atas segala jasamu, namamu akan selalu kami ingat. Pengorbanan anda tidak akan pernah terlupakan, Kami akan terus belajar, untuk mencapai impian kami.

Analisis: Puisi ini merupakan ungkapan terima kasih dan penghormatan kepada guru. Penggunaan metafora (pelita) dan personifikasi (senyum hangat) memperkuat pesan yang ingin disampaikan. Penekanan pada kesabaran, ketelatenan, dan pengorbanan guru menyoroti peran penting mereka dalam membentuk karakter dan masa depan siswa. Rima akhir yang konsisten (a-a-a-a) memberikan kesan formal dan khidmat.

5. Kenangan di Sekolah Dasar:

Masa-masa indah, takkan terlupakan,
Kenangan manis, selalu terkenang.
Tawa dan canda, tangis dan haru,
Semua terukir, di dalam kalbu.

Sahabat sejati, yang selalu ada,
Saling mendukung, suka dan duka.
Guru tercinta, yang membimbing kami,
Membekali ilmu, untuk masa depan nanti.

Sekolah dasar, tempat pertama kali,
Kami belajar dan tumbuh, menjadi diri sendiri.
Kenangan ini, akan selalu kami jaga,
Sebagai bekal berharga, untuk mengarungi dunia.

Analisis: Puisi ini merangkum kenangan-kenangan indah di sekolah dasar. Penggunaan kata-kata emosional (indah, manis, haru) membangkitkan nostalgia dan kerinduan. Penekanan pada persahabatan, guru, dan pembelajaran menyoroti aspek-aspek penting dalam pengalaman di sekolah dasar. Rima akhir yang konsisten (a-a-a-a) memberikan kesan sentimental dan mengharukan.

6. Mimpi di Sekolah Dasar:

Di sekolah dasar, mimpi mulai bersemi,
Menjadi dokter, guru, atau insinyur.
Membaca buku, belajar dengan tekun,
Meraih cita-cita, setinggi mungkin.

Berani bermimpi, tanpa rasa takut, Berjuang keras, tanpa mengenal pasang surutnya. Dengan ilmu dan akhlak sebagai bekal, Kita akan membangun masa depan yang cemerlang.

Sekolah dasar, adalah pondasi,
Untuk meraih kesuksesan, di masa depan nanti.
Kami akan terus belajar, dan berkarya,
Untuk mengharumkan nama bangsa, dan negara.

Analisis: Puisi ini menggambarkan mimpi dan harapan siswa sekolah dasar. Penggunaan kata-kata motivasi (berani, berjuang, tekun) memberikan semangat dan inspirasi. Penekanan pada ilmu, akhlak, dan kerja keras menyoroti nilai-nilai penting dalam meraih kesuksesan. Rima akhir yang konsisten (a-a-a-a) memberikan kesan optimis dan penuh harapan.

7. Lonceng Sekolah:

Lonceng berbunyi, di pagi yang cerah,
Mengajak kami datang, dengan langkah gagah.
Lonceng berbunyi, di siang yang terik,
Tanda istirahat, waktu yang asyik.

Lonceng berbunyi, di sore yang sejuk,
Waktunya pulang, bertemu sanak famili.
Lonceng sekolah, saksi bisu,
Perjalanan kami, menuntut ilmu.

Lonceng sekolah, yang selalu setia, menemani langkah, disetiap waktu. Dari kelas satu sampai kelas enam, Kenangan terpatri tak pernah pudar.

Analisis: Puisi ini menjadikan lonceng sekolah sebagai fokus utama. Lonceng dipersonifikasi sebagai saksi bisu perjalanan siswa menuntut ilmu. Penggunaan citraan pendengaran (lonceng berbunyi) dan visual (pagi yang cerah, siang yang terik, sore yang sejuk) menciptakan gambaran yang jelas dan hidup. Rima akhir yang konsisten (a-a-a-a) memberikan kesan familiar dan mudah diingat.

8. Perpustakaan Sekolah:

Rak-rak buku, berjejer rapi,
Menyimpan ilmu, dari berbagai negeri.
Membaca buku, membuka wawasan,
Menjelajahi dunia, tanpa batasan.

Perpustakaan sekolah, tempat yang tenang,
Mencari informasi, dengan senang.
Membaca cerita, tentang pahlawan,
Menginspirasi jiwa, untuk jadi dermawan.

Pustakawannya, ramah dan sabar, Membantu kami menemukan, buku yang tepat. Terima kasih perpustakaan, atas jasanya, Kami akan selalu membaca, dan mencari ilmu.

Analisis: Puisi ini menggambarkan suasana di perpustakaan sekolah. Penggunaan citraan visual (rak-rak buku) dan suasana (tenang) menciptakan gambaran yang jelas dan hidup. Penekanan pada pentingnya membaca dan mencari informasi menyoroti peran perpustakaan dalam proses pembelajaran. Rima akhir yang konsisten (a-a-a